Pada hari Selasa (15/5/2012) pelataran gedung di jalan Warung Buncit nomor 30 Jakarta Selatan dipenuhi oleh ratusan tokoh masyarakat dan perwakilan anggota komunitas Jawa, mereka bermaksud untuk memberikan dukungan kepada Cagub bernomor 4 Hidayat+Didik dengan cara memberikan 1000 tanda tangan di atas kain putih berukuran 1x20 meter.
Acara yang dipenuhi dengan nuansa Jawa seperti, hiburan dan panganan yang berasal dari penganan khas Jawa. Diantaranya gudeg yogya, soto kudus, bakso malang, Sate Madura, Dawet Ayu Banjarnegara dan sebagainya.
Dukungan terbuka tersebut diberikan oleh warga Jakarta yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur,dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari Jateng diantaranya dari komunitas masyarakat Solo, Klaten, Karanganyar, Boyolali, Sukoharjo, Tegal, Pekalongan, Semarang dan Demak (Jawa Tengah).
Sedangkan dari Jawa Timur diwakili antara lain oleh: Komunitas Reog Ponorogo, Paguyuban Keluarga Besar Arema, Ojek Kramat Jati (Pamekasan), Paguyuban Supir Trailer Jakarta Utara (Sampang) dan Alumni Warga Persis Bangil. Dan Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut nama Komunitas Kulonprogo, Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) dan Komunitas Warakaban Jakarta.
Ketua Panitia Deklarasi Komunitas Masyarakat Jawa, Joko Widodo (41), menyatakan komunitas masyarakat Jawa ini berasal dari berbagai kalangan seperti lintas profesi, agama, afiliasi sosial politik dan kemasyarakatan. “Jaringan komunitas mereka sangat besar dan berkomunikasi satu sama lain. Mereka ada yang dipersatukan karena faktor pekerjaan, seperti paguyuban warteg, perajin batik, pedagang martabak, namun banyak pula yang diikat karena hubungan darah dan kekerabatan. Jadi dukungannya sangat solid,” imbuh Joko.
Selain membubuhkan 1000 tanda tangan, komunitas jawa juga akan menyosialisasikan Hidayat+Didik di internal mereka, dan juga siap terlibat dalam kampanye Hidayat+Didik ini secara luas di masyarakat lainnya.
Menurut Joko, para pedagang juga siap menempeli toko, warung dan gerobak dagangan mereka dengan stiker dan alat peraga kampanye Hidayat+Didik. Sementara kalangan professional siap menyebarluaskan pesan-pesan Hidayat+Didik ke para kolega dan kliennya.
Jadi, sosialisasi Hidayat+Didik akan menjadi kampanye word of mouth yang bergerak terus secara berantai di masyarakat. Sehingga dampaknya akan lebih besar daripada kampanye konvensional karena masyarakat sendirilah yang menjadi agen iklannya. Sehingga yang terkangkat bukan sekedar popularitasnya, namun juga tingkat elektabilitasnya, apalagi sebagian besar populasi warga Jakarta juga berasal dari Jawa, tambah Joko.
Selain bentuk kampanye konvensional ada pula rencana dukungan Hidayat Didik melalui media sosial. Yaitu “Gerakan Satu Juta Facebookers Dukung Hidayat Didik Pimpin DKI Jakarta”.
Acara yang dipenuhi dengan nuansa Jawa seperti, hiburan dan panganan yang berasal dari penganan khas Jawa. Diantaranya gudeg yogya, soto kudus, bakso malang, Sate Madura, Dawet Ayu Banjarnegara dan sebagainya.
Dukungan terbuka tersebut diberikan oleh warga Jakarta yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur,dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari Jateng diantaranya dari komunitas masyarakat Solo, Klaten, Karanganyar, Boyolali, Sukoharjo, Tegal, Pekalongan, Semarang dan Demak (Jawa Tengah).
Sedangkan dari Jawa Timur diwakili antara lain oleh: Komunitas Reog Ponorogo, Paguyuban Keluarga Besar Arema, Ojek Kramat Jati (Pamekasan), Paguyuban Supir Trailer Jakarta Utara (Sampang) dan Alumni Warga Persis Bangil. Dan Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut nama Komunitas Kulonprogo, Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) dan Komunitas Warakaban Jakarta.
Ketua Panitia Deklarasi Komunitas Masyarakat Jawa, Joko Widodo (41), menyatakan komunitas masyarakat Jawa ini berasal dari berbagai kalangan seperti lintas profesi, agama, afiliasi sosial politik dan kemasyarakatan. “Jaringan komunitas mereka sangat besar dan berkomunikasi satu sama lain. Mereka ada yang dipersatukan karena faktor pekerjaan, seperti paguyuban warteg, perajin batik, pedagang martabak, namun banyak pula yang diikat karena hubungan darah dan kekerabatan. Jadi dukungannya sangat solid,” imbuh Joko.
Selain membubuhkan 1000 tanda tangan, komunitas jawa juga akan menyosialisasikan Hidayat+Didik di internal mereka, dan juga siap terlibat dalam kampanye Hidayat+Didik ini secara luas di masyarakat lainnya.
Menurut Joko, para pedagang juga siap menempeli toko, warung dan gerobak dagangan mereka dengan stiker dan alat peraga kampanye Hidayat+Didik. Sementara kalangan professional siap menyebarluaskan pesan-pesan Hidayat+Didik ke para kolega dan kliennya.
Jadi, sosialisasi Hidayat+Didik akan menjadi kampanye word of mouth yang bergerak terus secara berantai di masyarakat. Sehingga dampaknya akan lebih besar daripada kampanye konvensional karena masyarakat sendirilah yang menjadi agen iklannya. Sehingga yang terkangkat bukan sekedar popularitasnya, namun juga tingkat elektabilitasnya, apalagi sebagian besar populasi warga Jakarta juga berasal dari Jawa, tambah Joko.
Selain bentuk kampanye konvensional ada pula rencana dukungan Hidayat Didik melalui media sosial. Yaitu “Gerakan Satu Juta Facebookers Dukung Hidayat Didik Pimpin DKI Jakarta”.
YOU MIGHT ALSO LIKE




